kujentikan kuku kuku tangan ku
kujentikan untuk membunuh waktu
kuhitung tiap daun yang jatuh
kuhitung terus agar waktu berlalu
kuterduduk di sebuah sudut
sebuah sudut yang memaksa aku untuk melihat tikungan itu
dan
berharap
ternyata aku masih sendiri
dan semakin sendiri
saat mereka mulai tak peduli
kutundukkan kepala
agar aku belajar bahwa kesendirianku bukanlah sebuah petaka
ini hanya fase kelelahan dari semuasemua doa dan harapan
terkadang ada yang datang buat semuanya senang lalu menghilang
lalu dia datang lagi
tapi aku sudah kelelahan
lalu aku kembali pada sudut penyiksaan itu
entah kapan bisa kugeserkan arah bola mata
lalu kupalingkan kepala
lalu kubalikkan arah badan
lalu kulangkahkan dengan arah berlawanan
lalu kucuci otakku ini hingga bersih dan tak bersisa noda noda memory menyakitkan
ironi
stagnasi
aku pernah menemaninya
namun itu sebuah sketsa yang paling ingin aku bakar dan kubuang abunya
tapi bukankah dilarang untuk kita mempertanyakan sebuah takdir?
maka tak akan ada kata mengapa aku bertemu dengannya?
tapi mungkin akan ada kata mengapa aku terlalu lemah untuk selalu mengalah pada mimpi?
padahal aku tak suka bermimpi
mimpi membuat kita malas bangun dan menyambut nyata dengan senyum
mimpi membuat kita tidur tak berdaya dalam sebuah khayal yang kusebut sebagai pendusta terbesar sepanjang cerita....
ah biarlah saja
mungkin masih harus begini
11 hari menjelang hari yang paling kutakuti
mungkin kali ini aku akan bersembunyi
salam untuk semua kenangan yang tak pernah mau mengalah demi sembuah kebahagiaan
tolong